BonChan Indonesia, CEO Muda Michelle Surjaputra

Biografi Pengusaha Sukses: Michelle E. Surjaputra



Penampilannya yang belum "matang" siapa sangka wanita yang satu ini bisa dibilang salah satu CEO terbaik di Indonesia. Usianya yang masih 25 tahun, tidak lagi disebut anak ABG tapi juga belum cukup matang untuk menduduki jabatan CEO di PT Michelindo Food International. Jangan menilai seseorang dari fisiknya. Dia, Michelle Surjaputra, membuktikan hal tersebut dari segi usia. Bagi anda yang berjalan- jalan ke mall, pasti akan melihatnya.

Restoran cepat saji bernama BonChan, dan Michelle lah wanita dibalik restoran cepat saji khas Korea yang mulai masuk 2012 ini.

"Walaupun pengalaman magang kerja saya cukup banyak, tapi inilah pekerjaan resmi saya yang pertama. Ya, kalau dibayangkan, dulu saya hanya seorang anak yang baru berusia 22 tahun dan mencoba untuk membuka usaha yang sepenuhnya didukung oleh ayah saya," kenang Michelle saat ditemui tim FIMELA.com usai memimpin regular meeting di kantornya.

Resign menjadi pengusaha


Hampir seluruh keluarganya tinggal dan berkarya di Amerika, termasuk dirinya dulu. Mulai dari sekolah, lalu menempuh pendidikan sekolah tinggi dan akhirnya bekerja di sana, membuatnya total 16 tahun tinggal di negeri Paman Sam tersebut. Tapi ada yang membawanya kembali ke tanah air bersama suksesnya kini. Jika anda bertemu dengannya jangan kaget jika bahasa Indonesiany belepotan, lebih banyak didominasi bahasa Inggris. Menurut perempuan yang gemar olah raga ini, ia telah mendapatkan pekerjaan sesuai keinginannya disana tapi tidak ia tidak menemukan tantangan di pekerjaanya saat itu di Amerika.

Ingin mendapatkan tantangan lebih ia nekat berhenti dan kembali ke tanah air tapi tak lantas langsung membawa BonChan ke Indonesia. Lulusan dari New York University- Leonard N. Stern School of Business pada 2011 lalu, Michelle sempat bekerja menjadi PR marketing dan karyawan Bank Indonesia. Di Indonesia ia menyadari keinginan terdalamnya adalah menjadi pengusaha seperti sang ayah, Michelle lalu melakukan beberapa riset mengenai perilaku konsumen di Indonesia. Hasilnya, orang Indonesia ternyata suka makan ayam, dan saat ini sesuatu yang berbau Korea sedang digemari.

"Orang Indonesia mereka suka ayam. Fried chicken dan nasi. Di Indonesia juga sedang tren serba Korea. Aku juga sadar bahwa mereka juga ingin semakin sehat, jadi itu pas banget. Apalagi saat aku di NYU, aku bisa makan BonChon berapa kali dalam sebulan. Jadi, kenapa tidak membawa BonChon ke Indonesia?" ungkapnya sambil mengenang saat berbincang dengan wolipop di kawasan Kemang, Jakarta Selatan belum lama ini.

Perempuan yang berhasil menempati juara 1 turnamen triathlon internasional di Bintan ini mengaku bahwa kepulangannya ke Indonesia sebenarnya adalah proses "coba-coba" saja. "Karena satu hal, saya akhirnya kembali ke Indonesia. Lagipula saya berpikir, kenapa saya tidak mencoba kembali ke Jakarta. Siapa tahu saya bisa meneruskan bisnis ayah saya atau melakukan hal lain. Kalaupun saya tidak suka, nantinya saya bisa kembali lagi ke Amerika dan melanjutkan pendidikan saya," ujar Michelle.

Dia berkeliling mal dan tempat hiburan di Jakarta. Ketika itu ia juga sering main ke mall karena satu lain hal. Waktu di Indonesia, neneknya yang sakit membuatnya mau tak mau berkunjung ke mall dekat tempat neneknya dirawat. Sambil masuk ke mall mungkin juga sambil mengamati tingkah polah masyarakat Indonesa. Dari tempat itulah ide membawa BonChon muncul. Pengalamannya di Amerika menikmati BonChan di sana membuatnya langsung ngeh ketika melihat kebiasaan nongkrong orang Indonesia. Ia berencana memboyong franchise BonChan, menjadi pemegang merek dagangnya di Indonesia.

"Saya mengajukan ide kepada ayah dan ayah mendukung untuk mewujudkan ide tersebut. Business plan saya kerjakan sendiri, conference call, dan beberapa perjuangan lainnya saya lakukan hingga akhirnya gerai pertama Bonchon hadir di Indonesia pada tahun 2012 awal,” kenang Michelle.

Meski merek satu ini cukup terkenal di negara asalnya Korea, ia tak bisa serta merta memboyong franchise ini. Saat itu wanita kelahiran 1988 ini harus bersaing ketat dengan lima calon kandidat kuat pemegang merek dagang. Dia tak gentar. Michelle Michelle tetap mengajukan diri dengan menulis referensi dirinya ke situs BonChon.

"Lumayan susah yah. Saya ke email address yang ada di websitenya. I explained myself. Dan mereka bilang, why don’t we conference call? Jadinya hari rabu kita conference call, mereka bilang sudah ada lima kandidat yang bagus untuk bawa Bonchon ke Indonesia. Tapi mereka bilang 'go ahead, write your business plan'. Jadinya dalam dua hari saya bikin 50 halaman dan mereka suka banget. Lalu saya ketemu dengan CEO dari Korea di Manila. Ternyata obrolan kita klik banget dan startnya dari situ," urai wanita yang hobi olahraga lari ini.

Dibalik kesuksesannya ia mengaku sang ayah adalah contoh baginya menjadi pengusaha. Beliau baginya ialah sosok pantang menyerah memulai bisnis dari nol. Sedangkan ibunya adalah sosok yang 110 persen selalu mendukung langkahnya dari lulus kuliah hingga memutuskan berbisnis sendiri. Kedua orang tua baginya adalah sumber inspirasi ujarnya lagi.

Franchise BonChan


Pada 2013, ada 10 restoran baru yang rencananya akan diluncurkan olehnya selain resto yang pertama di kawasan Grand Indonesia.  Di tahun 2013 totalnya ada sebelas cabang BonChon sudah ada di mal-mal besar di Indonesia seperti Grand Indonesia, Living World Alam Sutera, Citywalk Sudirman, Gandaria City dan lainnya. Di tahun 2011- 2013, PT Michelindo Food International (MiFI) fokus untuk membangun branding, menciptakan demand dan membentuk business model. Nah, kini saatnya ekspansi lebih luas lagi ke seluruh Indonesia.

Namun, mimpi ekspansi ini tidak mungkin bisa dilakukan sendiri, karena memerlukan modal yang besar dan keterbatasan waktu dalam melakukan managemen kontrol ke seluruh cabang. Menurut pengusaha muda ini, untuk menjadi franchisee BonChon tidaklah sulit, asalkan memiliki lokasi usaha yang strategis. Bisa saja di mal atau standing outlet. Selain itu, syarat  luas outlet minimal 150 meterpersegi untuk lokasi di dalam  mall dan 100-400 meterpersegi untuk lokasi di ruko.

"Sejauh ini kami telah menerima sekitar 200 aplikasi waralaba dari beberapa daerah seperti dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Makassar dan Medan," imbuh kelahiran Jakarta, 15 November 1988 ini.

Kendati calon investor antusias, tahun 2014 ini, Michelle cuma akan mematok target jumlah franchisee 5-10 waralaba. Seleksi ketat dilakukan demi menjaga standar kualitas produk, layanan dan memberi keuntungan besar bagi investor. Berapa biaya untuk membeli franchise BonChon? MiFI mematok biaya franchise fee sebesar US$ 50.000 – 80.000 selama masa kontrak 5+5 (5 tahun+5 tahun perpanjangan). Lalu ada masa perpanjangan ini dengan negosiasi kontrak baru.

Bagi calon investor yang ingin berinvestasi di bisnis F&B, tapi tidak dapat terlibat langsung dalam jalannya operasional, MIFI menawarkan peluang  kerja sama dalam bentuk management fee. Untuk model bisnis ini investor hanya menyediakan tempat dan  membayar franchise  fee saja, sedangkan untuk segala hal tentang operasionalnya dikendalikan langsung oleh MiFI dengan  imbal hasil sebesar 5% dari penjualan. Target pasar BonChon adalah konsumen kelas A dan B. Untuk itu, dituntut kualitas yang baik, sehingga BonChon komit pada kesegaran bahan makanan, termasuk dapur.

"Di sini ayamnya tidak ada proses pembekuan, tak menggunakan bahan kimia dalam bumbu ayam," dia menjelaskan. Untuk pasokan bahan baku ayam, BonChon mengandalkan mitra-mitra suplier di sekitar lokasi outlet. Saat ini sudah memiliki empat suplier ayam dari Bandung dan menjajaki kerja sama dengan suplier di kota lain. Michelle optimis bisnis Food&Beverage ini masih sangat menjanjikan untuk dicoba. Dengan daya beli yang meningkat, jalan franchise BonChan juga akan berkembang seiring permintaan akan masakan khas Korea ini. Impian lain adalah menjadikan BonChan Indonesia sebagai BonChan terbaik di dunia.

sumber: swa.co.id, wolipop.detik.com, fimela.com

0 komentar